masjid yang berada di lamongan ini memiliki keunikan dan memiliki persamaan dengan masjidil haram, masjid ini tdk pernah berhenti pengunjung, memiliki kualitas yang bagus.Sejak tahun lalu, setiap kali pulang kampung saya berusaha menyempatkan mampir dan melaksanakan shalat sunnah tahiyyatul masjid
di masjid itu. Sebuah masjid berasitektur modern, dengan ornamen yang
tidak terlalu rumit dan dengan kaca hampir di seluruh dindingnya.
Namira, begitu nama masjid itu yang berdiri di atas tanah seluas 7.500
m2 itu.
Sudah beberapa kali saya mendengar dari
kawan-kawan bahwa ada sebuah masjid baru yang cukup megah di sebelah
selatan kota Lamongan, kota kelahiran saya. Tetapi baru kesampaian untuk
shalat di masjid itu kira-kira setahun lalu ketika ada undangan mengisi
acara di Surabaya, Gresik dan Lamongan.
Entah mengapa kesempatan kali ini saya
tiba-tiba ingin sekali mengajak istri sekalian pulang kampung. Padahal
sudah berkali-kali mendapat undangan untuk mengisi berbagai acara di
Surabaya dan sekitarnya tidak pernah saya mengajak istri. Paling-paling
ngajak istri pulang kampung bersamaan momen mudik lebaran dan itu pun
pasti bareng-anak-anak. Kali ini anak-anak tidak ikut karena memang
tidak sedang liburan.
Acara di masjid At-Taqwa, kecamatan
Tikung, Lamongan itu biasa dilaksanakan bakda isya. Usai shalat maghrib
saya dan istri berangkat dari rumah kami di kampung. Kira-kira 30 menit
kami sudah melewati tugu batas kota Lamongan sebelah selatan. Maklum di
kota kecil seperti Lamongan ini tidak ada kemacetan. Iseng, saya
mengajak istri untuk mampir dan shalat isya di masjid Namira yang memang
berada di jalan menuju lokasi acara kami. Sedikit telat tiba di lokasi
acara tidak apa-apa, batin saya.
Begitu memasuki masjid, saya tertegun.
Bukan hanya bangunannya yang megah, tetapi saya merasakan ada aura
masjidil Haram di masjid itu. Aroma pengharum ruangan di masjid itu
benar-benar membuat saya teringat saat-saat menjalankan ibadah haji
bersama istri beberapa tahun lalu. Saat melaksanakan shalat, saya
merasakan suasana yang sangat khusyu’.
Usai shalat dan berdoa sejenak, saya
buru-buru bangkit karena harus segera ke masjid At-Taqwa khawatir jamaah
terlalu lama menunggu. Saya berdiri menunggu istri di pintu belakang.
Beberapa saat menunggu, belum tampak istri saya keluar meski hampir
semua jamaah sudah keluar. Saya mulai menebak-nebak, mungkin istri saya
menangis.
Hampir lima belas menit menunggu, istri saya keluar. Mukanya merah padam. Benar dugaan saya.
“Ingat Masjidil Haram ya?” sapa saya.
Istri saya hanya mengangguk.
Usai mengisi acara di masjid At-Taqwa
saya ngobrol dengan salah seorang pengurus masjid At-Taqwa yang juga
masih kerabat jauh. Saya penasaran ingin mengetahui dari mana dana untuk
membangun masjid Namira yang megah dan indah itu. Dari saudara saya itu
saya mendapatkan informasi bahwa masjid Namira itu dibangun oleh
seorang pengusaha Lamongan. Subhaanallah….
Saya tiba-tiba teringat proses
pembangunan masjid di sekitar perumahan saya di Cileungsi, Bogor. Setiap
kali ada pembangunan masjid ada satu yang khas, yaitu panitia menutup
jalan dengan drum dan kemudian ada seorang petugas yang menggunakan loud speaker untuk meneriakkan kalimat yang itu-itu juga.
“Bapak ibu para dermawan…. lemparkan saja seberapa pun bantunannya untuk pembangunan masjid kami….”
Begitu mencolok perbedaannya. Yang satu
masjid megah dan indah dibangun seorang diri. Yang satunya lagi masjid
yang sederhana tapi dibangun dengan dana urunan dan juga dilakukan
dengan mengganggu perjalanan orang lain.
Saya tiba-tiba berandai-andai kalau saja
ummat Islam ini mayoritas adalah pengusaha sukses seperti pendiri
masjid Namira, mungkin tidak ada lagi proses pembangunan masjid yang
terpaksa dilakukan dengan “memaksa” orang lain untuk menyumbang.
Sayangnya saya hanya beranda-andai.
Karena kenyataannya mayoritas ummat Islam adalah para buruh. Mereka
lebih suka menjadi orang-orang yang harus berangkat pagi-pagi dengan
memakai seragam dan berkejar-kejaran dengan waktu di jalanan daripada
menjadi pengusaha. Padahal berabad-abad lalu Rasulullah sudah
menyampaikan bahwa 9 dari 10 pintu rezeki adalah di dalam perdagangan
atau bisnis.
Ah…. kapankah di negeri ini muncul dari
ummat Islam orang-orang seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Bakar As-Shidiq
atau Utsman bin Affan. Semoga tidak lama lagi